Travel Photography & Travel Blog Workshop – Telisik Budaya Sindangbarang

Siapa sih yang menciptakan kalimat,

‘Mulailah harimu dengan senyuman karena senyuman adalah pembuka yang sangat manis untuk hidupmu yang sangat indah’ ?

Saya akan berterima kasih buat pencipta kalimat tersebut atas untaian kata penyemangatnya, meskipun senyum saya dari pagi agak-agak sepet karena beberapa hal. Kenapa saya musti berterima kasih, ini saya ceritakan, ya.

Oke, ya jadi ceritanya begini. Hari Sabtu tanggal 24 Agustus 2019 saya sudah berusaha untuk selalu tersenyum dari pagi meskipun perjalanan dari rumah menuju ke stasiun kereta api terdekat ke Bogor, yaitu stasiun Tanjung Barat yang berjarak 22 kilometer dari rumah saya penuh dengan drama.

To make long story short , sampailah saya di stasiun kereta Tanjung Barat setelah buru-buru turun dari kendaraan di tengah-tengah jalan di pemisah jalur lambat dan jalur cepat. Saya harus bergegas naik jembatan penghubung ke pintu stasiun karena sesuai rencana saya harus berada di Bogor pukul 07.00 WIB. Sayapun berlari kecil menuju pintu gerbang karena menurut jadual kereta akan tiba pukul 06.04, dan segera men-tap kartu pinjaman dari suami.

Bolak-balik saya tap kartu itu, tapi pintu tidak mau terbuka. Baru saya perhatikan tulisan di pintu gerbang kalau kartu saya sudah expired !  What ? Senyum saya mulai pudar, perlahan menghilang seiring dengan kereta yang rencananya akan saya naiki datang dari arah Pasar Minggu. Gimana saya mau loncat ke dalam kereta kalau pintu stasiunnya tidak mau terbuka ?

Untungnya di loket tidak ada orang yang mengantri jadi saya agak leluasa bertanya kepada petugas tentang status kartu saya ini, karena sebenarnya isinya masih dua ratus ribu rupiah, tapi kenapa dibilang expired. Saya berbicara dengan petugas loket sembari menatap nanar ke arah kereta. Lalu senyum saya tambah hambar menyaksikan dari loket ,kereta tadi beranjak pergi ke arah Bogor. Pedih.

Petugas menginformasikan kalau sebelumnya kartu itu pernah dipakai membeli tiket ke Rangkasbitung pada bulan Januari, tapi ketika sampai Rangkasbitung kartu tersebut tidak di-tap sehingga kartu diblokir. Kalau saya mau menggunakan kartu tersebut, saya harus membayar denda. Duh, sudah telat pergi ke Bogor kena denda pula. Mudah-mudahan dendanya tidak juta-jutaan. Kalau dendanya banyak mending beli tiket baru aja, ya kan ? Saya deg-degan menunggu keputusan petugas seperti deg-degan menunggu sidang itsbat penentuan hari raya.  Takut kena denda mahal, mana kartu pinjaman pula.

“Empat ribu rupiah , bu,” kata petugas

“Apa ? Empat ribu ?”

Ya ampun kenapa nggak empat milyar, Mas Petugasque ??

Kenapa tidak pas pertama saya bilang kartu kadaluarsa langsung saja dia suruh saya membayar empat ribu jadi masih sempat saya mengejar naik kereta yang tadi ?  Timbang empat ribu aja sih langsung saya bayar, sebelum mas petugas meralat jadi beneran empat milyar.

Oya, saya mau kasih tahu kenapa saya seribet ini urusan tiket kereta. Saya harus mengakui kalau saya tidak lihay  dalam hal perkeretaan karena memang jarang sekali naik kereta. Terakhir naik kereta ya waktu ke Rangkasbitung itu bulan Januari. Jadi gerakan saya di stasiun agak terbata-bata. Dan sialnya, di waktu harus cepat-cepat malah mengurusi hal remeh macam denda ini.

Memang seingat saya ketika ke Rangkasbitung, suami tidak men-tap kartu. Dia main keluar saja dari stasiun mentang-mentang pintu keluar stasiun sudah terbuka. Lalu pulangnya kami beli tiket di loket stasiun Rangkasbitung. Jadi kami tidak tahu status kartu waktu itu.

WhatsApp Image 2019-09-04 at 01.04.04 (2)
Stasiun Kenangan Kartu Kadaluarsa
Iphone7- Edit apps : Unfold

Setelah menunggu beberapa saat, kereta dari Pasar Minggu menuju ke Bogor datang. Meskipun belum jam tujuh pagi tapi kemungkinan sangat kecil saya bisa mendapat tempat duduk, karena sudah terlihat banyak penumpang yang berdiri. Terbayang seandainya semua orang di gerbong yang saya naiki tujuan akhirnya Bogor, lumayan dapat jatah penuh berdiri dari Tanjung Barat ke Bogor. Dan memang setelah saya loncat ke gerbong yang berhenti di depan saya, sudah tidak ada tempat lagi buat duduk.

Baru saya masuk ke gerbong sekian detik, tiba-tiba ada mas-mas yang beradu mata dengan saya. Aih ini bukan awal kisah romansa, ya. Tiba-tiba dia tersenyum, … hmm .. tidak geer juga sih disenyumin orang di kereta. Lalu mas senyum ramah itu mengangguk ke saya dan berdiri mempersilakan saya duduk. Apakah saya terlihat seperti ibu hamil ? Atau saya kelihatan uzur sehingga si mas berbaik hati memberi saya tempat duduk ? Eit .. tapi sebelumnya saya otomatis bilang terima kasih ke mas yang baik hati itu.

Setelah duduk baru saya sadari kalau kursi yang diberikan kepada saya adalah kursi prioritas. Mungkin masnya tidak enak hati duduk di kursi prioritas. Setelah saya diberi kursi, malah saya yang jadi tidak enak hati duduk di kursi itu. Untungnya tidak ada ibu hamil atau orang tua yang naik di gerbong saya.

Jadi ini ceritanya kenapa saya begitu semangat naik kereta pagi-pagi ke Bogor adalah dalam rangka mengikuti workshop yang diadakan oleh Indonesia Corners dengan materi mengenai travel photography dan penulisan travel blog. Ini semacam paket komplit untuk yang mau memperdalam wawasan dari narasumber yang sudah berpengalaman. Selain itu yang menarik adalah kita sekalian jalan-jalan ke Kampung Budaya Sindangbarang. Tambah kumplit jadinya rangkaian kegiatan di workshop ini.

DSCF5268
Kampung Budaya Sindangbarang
Fuji XE-2- f/11, ISO 100, 1/60sec

Tempat janjian berkumpul sebelum melanjutkan perjalanan adalah di Stasiun Bogor. Dari jauh saya mengenali Salman di antara banner-banner yang ramai di stasiun Bogor. Teman-teman yang lain sudah bergerak naik angkot yang disewa. Saya dan Salman dengan setengah berlari menuju tempat angkot mangkal. Untunglah saya belum ditinggal. Kalau ditinggal, saya nangis beneran.

Kampung Budaya Sindangbarang

Ada satu acara adat Sunda yang diadakan setiap tahun sekali, sebagai bentuk rasa syukur masyarakat agraris kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala kebaikan-Nya, yaitu acara Seren Taun.  Acara di mana doa-doa dipanjatkan agar terhindar dari cuaca yang buruk sehingga memberi hasil yang panen diharapkan, dilancarkan segala kegiatan untuk masa panen yang akan datang. Acara Seren Taun diadakan oleh beberapa masyarakat adat, salah satunya diadakan di Kampung Budaya Sindangbarang, Bogor.

DSC04422
Sehabis Panen
Sony A7ii – f/5, 1/320 sec, ISO 125

Pada saat kami datang memang tidak bertepatan dengan acara Seren Taun. Tapi Kampung Budaya Sindangbarang dapat kita datangi setiap saat, karena selain acara tahunan Seren Taun, di Kampung Budaya Sindangbarang kita bisa melakukan beberapa kegiatan wisata ataupun melihat atraksi tradisionil Sunda.

Kampung Sindangbarang sendiri merupakan kampung tertua di wilayah Bogor, malah menurut Pantun Bogor, Sindangbarang sudah ada sejak jaman Kerajaan Sunda di abad XII. Sindangbarang menjadi tempat yang penting karena di Sindangbarang terdapat salah satu keraton kerajaan tempat tinggal salah satu istri dari prabu Siliwangi yang bernama Dewi Kentring Manik Mayang Sunda.

Kita dapat melakukan berbagai kegiatan di Kampung Budaya Sindangbarang. Beberapa fasilitas juga disediakan apabila kita ingin bermalam di sana. Melakukan trekking di kawasan Sindangbarang juga merupakan alternatif yang menyenangkan, karena kawasan tersebut dikelilingi dengan tempat-tempat yang menarik seperti situs purbakala dengan suasana pedesaan masa lampau yang asri.

DSCF5099.JPG
Suasana Pedesaan yang Asri
Fujifilm X-E2 , f/6.4, 1/400 sec, ISO 400

Cara paling mudah untuk pergi ke Sindangbarang adalah dengan membawa kendaraan pribadi atau taksi, tentu saja. Karena jumlah kami banyak, maka panitia menyewa angkot dari stasiun Bogor menuju lokasi. Sepertinya bisa juga naik angkot sesuai trayek, tapi harus pindah kendaraan beberapa kali sesuai informasi di GoogleMap.

peta
Peta Menuju Sindangbarang dari Stasiun Bogor
Screen capture GoogleMap

 

Kalau lihat di GoogleMap sepertinya gampang menuju Kampung Budaya Sindangbarang. Tapi beberapa kali pak supir angkot harus memutar balik karena salah jalan. Saya sih selama supirnya semangat, nyasar sedikit tidak masalah. Yang jadi masalah adalah ketika jalanan mulai menanjak cukup tajam. Ngeri juga, kan kalau supirnya nekad naik terus tapi mesin angkot tidak mendukung, bisa-bisa belum sampai lokasi sudah mogok duluan angkotnya.  Di beberapa lokasi tanjakan kami turun dari angkot dan berjalan sampai ujung tanjakan.

Ayo semangat, jangan mengeluh. Malu nanti sama bendera Merah-Putih ..!!

WhatsApp Image 2019-09-05 at 11.35.54
Jalan Nanjak Gak Masalah
Iphone 7
WhatsApp Image 2019-08-25 at 07.23.36
Anteng Ngegosip di Angkot
Foto : @nyipenengah

Perjalanan memakan waktu kurang lebih satu jam. Hari masih terhitung pagi sesampainya kami di lokasi, sinar matahari masih ramah dan hangat. Sambutan bukan hanya datang dari sinar matahari, serombongan ibu-ibu berdiri di pintu gerbang sambil memainkan alat musik tradisional Sunda menyambut kedatangan kami.

“Selamat datang di Sindangbarang”

 

DSC04417
Angklung Gubrak- Alat Musik Tradisional
Sony A7ii- f/5, 1/100 sec, ISO 125

Saat menginjakkan kaki pertama kali di kampung budaya Sindangbarang, kesan pertama adalah tempatnya yang  sejuk, bersih, tertata rapi dan ada alun-alun yang membuat kampung budaya tampak luas. Apalagi musik yang menjadi sajian pembuka membuat suasana jadi tambah menyenangkan, menegaskan kalau kita sedang berada di tengah keramahtamahan lingkungan Sunda.

Suasana hati saya yang dari pagi sudah berantakan gara-gara peristiwa di stasiun kereta lambat laun sudah saya lupakan. Senang rasanya berada bersama-sama teman-teman yang akan belajar bareng. Dan saya juga sudah tidak sabar mendengar sharing tentang materi workshop.

DSCF5093
Selamat Datang di Sindangbarang
Fujifilm X-E2, f/6.4, 1/400 sec, ISO 400

Alamat Kampung Budaya Sindangbarang

Jl. Endang Sumawijaya, RT. 02 / RW. 08, Sindang Barang, Dukuh Menteng, Desa Pasir Eurih, Kecamatan Tamansari, Pasireurih, Bogor, Jawa Barat 16631

Travel Photography Workshop

Ada orang yang merekam perjalanan mereka dalam ingatan. Dia dapat menceritakan semua cerita perjalanan dengan membuka lembar-lembar peristiwa yang dia jaga di dalam pikiran dan ingatannya. Apalagi jika perjalanan sangat berkesan, walau sudah puluhan tahun terjadi, tetap seperti baru kemarin dilakukan dan dia dapat bercerita dengan lengkap.

Tapi ada juga orang yang perlu bantuan untuk menjaga ingatan, seperti menulis cerita perjalanan ataupun mengambil foto-foto selama perjalanan. Dengan bantuan tulisan atau foto, akan memudahkan kita mengingat cerita perjalanan dan akan membantu orang lain yang ingin mengetahui cerita perjalanan kita lewat tulisan atau foto.

Foto-foto yang kita ambil selama dalam perjalanan disebut dengan foto travel atau travel photography. Foto travel bisa berupa foto landscape daerah yang kita datangi, foto tentang orang-orang yang kita temui, makanan-makanan, ataupun foto diri kita sendiri . Foto travel merupakan gabungan segala aspek yang melengkapi cerita dari perjalanan kita. Karenanya, di dalam foto travel sedapat mungkin ditampilkan keaslian gambar dari lokasi yang kita datangi.

DSC04441
Uni Raiyani
Sony A7ii – f/1.8, 1/500 sec, ISO 640

Kenapa saya datang ke workshop ini karena saya merasa ada yang kurang dengan foto-foto travel saya, dan alhamdulilah saya ketemu jawabannya di sini.

Salah satu hal yang membuat foto kita tampil berbeda dengan foto yang lain adalah dari sisi komposisi foto. Obyek yang sama, waktu pengambilan gambar yang sama, belum tentu menghasilkan foto yang sama pula. Komposisi adalah bagaimana kita membuat elemen-elemen pendukung foto supaya enak untuk dilihat. Tidak ada aturan baku dalam komposisi, tapi tentu saja ada panduannya.

 

No composition rule is universal. No rule will work for every case. Some clever people have noticed trends in photos that can be summarized as rules and I’ll try to summarize some of those rules. – [John Harvey]

 

Selama ini saya kalau mengambil foto kebanyakan dalam posisi “eye level”. Apa yang kita lihat, lalu kita ambil gambarnya. Tidak salah sebenarnya, tapi supaya foto terasa agak ‘beda’ dengan yang lain, Uni Raiyani, narasumber yang juga travel photographer memberi saran beberapa sudut pengambilan foto. Kita bisa ‘merendahkan’ badan kita sehingga kamera berada lebih rendah dari obyek foto, atau biasa disebut ‘low level angle shot’.

Kalau ada sudut pengambilan gambar dengan level di bawah obyek foto, tentu saja bisa dilakukan juga kita mencari tempat yang lebih tinggi untuk mengambil gambar. Ini juga akan membuat foto travel kita menjadi lebih menarik.

 

DSC04835.JPG
Low Level Angle Shot (1)
Sony A7ii- f/1.8, 1/2500 sec, ISO 200

Foto di atas sepertinya tidak terlalu ‘low’banget mengambilnya. Saya mengambil foto sambil duduk.

 

DSC04527.jpg
Low Level Angle Shot (2)
Sony A7ii- f/3.2, 1/2000 sec, ISO 200

Kalau  foto yang ini diambil dengan posisi  tiarap. 😊

 

DSC04844.jpg
Tangan Terpotong
Sony A7ii
1/1.8, 1/2500 sec, ISO 200

Foto yang ini sebenarnya saya suka, tapi ada satu kekurangan yang agak mengganggu. Tarian ini dilakukan dengan kecepatan yang cukup tinggi. Untuk membekukan gerakan saya men-set speed di kamera di angka 1/2500 second. Tapi sayangnya posisi saya kurang mundur sehingga tangan penari yang sebelah kiri tidak terambil. Seandainya tangan kirinya terfoto, maka hasil foto ini akan lebih bagus karena menggambarkan gerakan lincah tangan penari secara keseluruhan.

 

Travel Blog Workshop – “How to Write The Great Travel Story”

Saya suka  dengan materi ini yang dibawakan oleh Donna Imelda, seorang dosen yang juga travel writer. Donna tidak segan-segan untuk membagi insight dia sebagai travel writer ke teman-teman yang juga kebanyakan travel writer.

Donna bercerita tentang apa saja yang membuat cerita perjalanan menjadi berkesan.  Kita dapat mencari keunikan tentang tempat yang kita datangi, mempelajari tempat tersebut sebelum berangkat, lalu mencari sudut cerita yang menarik untuk ditulis.

Sering kali pikiran kita mentok bagaimana cara memulai menulis, meski di kepala kita sudah banyak cerita yang ingin disampaikan. Jadi caranya  bagaimana ? Tulis saja semua yang terlintas, tidak perlu memperhatikan huruf besar-huruf kecil-koma-titik-dan sebagainya. Tulis saja semuanya sampai selesai. Lalu review ulang tulisan kita. Ulang lagi sampai kita merasa sudah bagus. Tulisan juga bisa diawali dengan petikan kata-kata mutiara, lirik lagu, ataupun kutipan percakapan.

Kalau materi mau ditulis ulang semua di sini tidak mungkin lah ya, file pdf-nya saja sampai 19 halaman. Jadi kalau lain waktu Donna membuka kelas menulis, ikut aja … Lhoo numpang iklan, nih  😊

DSC04443
Kakak Donna Imelda
Sony A7ii – f/1.8, 1/500 sec, ISO 640

 

Telisik Budaya Sindangbarang

Sebelum makan siang, kami mendapat sajian atraksi tradisional yang dipersembahkan oleh Sanggar Tari di Kampung Sindangbarang.

Saya salut dengan komitmen Kampung Budaya Sindangbarang yang dengan konsisten mengembangkan budaya Sunda. Masyarakat sekitar dilibatkan, bukan cuma orang dewasa, tapi juga remaja bahkan anak-anak.

Ada beberapa tarian dan atraksi yang disajikan. Kebetulan sekali jadinya atraksi-atraksi tersebut sekalian menjadi obyek foto untuk mempraktekkan  travel photography workshop yang baru kami dapat.

DSC04521.JPG
Peserta Parade (1)
Sony A7ii
f/3.2, 1/2000 sec, ISO 200
DSC04514.JPG
Peserta Parade (2)
Sony A7ii
f/3.2, 1/2000 sec, ISO 200
DSC04474.jpg
Persiapan Sebelum Parade
DSC04473.JPG
Peserta Parade dan Penonton Parade Bersiap-siap
Angklung Gubrag
DSC04543.jpg
Angklung Gubrag
Sony A7ii
f/3.2, 1/1250 sec, ISO 200

 

Angklung Gubrag merupakan kesenian masyarakat agraris Sunda yang sudah ada sejak jaman kasepuhan. Pada jaman dahulu alunan angklung gubrag digunakan untuk mengiringi ritual menanam dan memanen padi.  Sekarang kesenian ini selain  dimainkan saat nandur atau tanam, juga dimainkan sebagai penyambutan tamu pernikahan adat dan berbagai ritual dalam seren taun.

Pemain angklung gubrag diharuskan memakai baju kampret dan celana pangsi, dilengkapi dengan penutup kepala. Dahulu yang memainkan angklung gubrag adalah perempuan, karena berhubungan dengan dewi kesuburan. Namun kini tidak hanya perempuan yang boleh memainkan angklung gubrag. Lelaki juga boleh.

DSC05040.JPG
Pasukan Angklung Gubrag
Tarian Rampak Gendang
DSC04626.JPG
Tari Rampak Gendang

 

Tarian Rampak Gendang ini dinamis, ekspresif  dan ceria sekali. Rampak Gendang artinya memainkan gendang secara bersama-sama. Ada tiga penari yang bergerak terus tanpa memberi jeda saya buat membidik sasaran supaya fokus. Dengan anggun tapi juga lincah mereka terus bergerak sembari menabuhkan tongkat ke gendang mereka masing-masing.

DSC04634.jpg
Ekspresif !
Kaulinan Barudak
DSCF5032.JPG
Kaulinan Barudak (1)
Fuji XE-2
f/4.5, 1/500 sec, ISO 400
DSC04692.JPG
Kaulinan barudak (2)
DSC04757.jpg
Kaulinan Barudak (3)

Waktu kecil kamu pernah kan main Ular Naga ? Mainan Ular Naga ini menjadi salah satu rangkaian dari tari permainan anak-anak atau Kaulinan Barudak. Penarinya bervariasi dari anak kecil yang masih PAUD sampai remaja SMA. Mereka bermain dan menari bersama seolah-olah sedang bermain beneran, tidak seperti sedang dalam pertunjukan. Asik lah pokoknya.

 

DSCF5037.JPG
Tukang Foto Difoto
Fuji XE-2
f/4.5, 1/500 sec, ISO 400
DSCF5056.jpg
Capai Setelah Mentas
Fuji XE-2
f/3,6, 1/500 sec, ISO 400
DSC05048.JPG
Tim Penari Kaulinan Barudak

Ini tim penari Kaulinan Barudak yang berlatih setiap hari jumat. Mereka terdiri dari anak-anak kampung sekitar Sindangbarang. Ada anak yang baru masuk PAUD sampai yang sudah SMA tergabung dalam tim penari Kaulinan Barudak.

Pertunjukan Silat Cimande
DSC04897
Silat Cimande
Sony A7ii
f/5, 1/320 sec, ISO 200

Pencak Silat Cimande merupakan aliran pencak silat yang sudah lama ada di bumi Nusantara. Dari jaman  Si Pitung yang melawan Kompeni , pencak silat Cimande sudah ada sebagai kemampuan bela diri maupun seni bela diri . Sekarang pencak silat sudah ada di banyak negara di dunia ini termasuk Iko Uwais bisa membawa pencak silat Cimande ke pentas Hollywood.

Semoga pemuda-pemuda gagah yang menampilkan pencak silat Cimande di Sindangbarang ini tetap konsisten menjaga dan merawat seni bela diri leluhur dan dapat menyebarkan ke seluruh pelosok Indonesia maupun dunia.

DSC04907.jpg
Konsentrasi – Pencak Silat Cimande
Tari Merak
DSC04973.jpg
Tari Merak (1)
Sony A7ii
f/2.8, 1/1000 sec, ISO 200

Burung merak betina mana yang tidak luluh hatinya ketika si jantan memamerkan bulu-bulu bagian ekornya yang begitu cantik rupawan ? Adakah betina merak yang tidak menoleh pada jantan yang memekarkan ekornya hingga melebar membentuk kipas dengan bintik-bintik berbentuk mata biru ?

Cantiknya merak yang sedang adu rayu menginspirasi seorang koreografer Sunda untuk menciptakan Tari Merak. Hingga kini Tari Merak menjadi tarian yang sangat terkenal sebagai tarian khas Jawa Barat.

Di Sindangbarang, gadis-gadis cantik meliuk, mengangkat tangannya dengan gemulai serta cepat, membentuk formasi layaknya merak yang sedang jatuh hati.

Penari, sayapun jatuh hati dengan tarianmu itu.

DSC04919.JPG
Tari Merak (2)

 

Tari Mojang Priangan
DSC04808
Tari Mojang Priangan (1)
Sony A7ii
f/1.8, 1/2500 sec, ISO 200

umat imut lucu

sura seuri nyari

larak-lirik keupet

Mojang Priyangan

Mojang Priangan ini terlalu, yah ..

Menggoda banget 🙂

Memang dari dulu sudah terkenal kalau mojang (gadis) Priangan (daerah Sunda) terkenal dengan paras rupawan, kulit cerah menawan. Jadi tidak salah kalau dijadikan inspirasi lagu maupun tarian.

Tari Mojang Priangan konon mengharuskan penari menguasai gerakan-gerakan yang kompleks. Musti jago melakukan gerakan perpindahan atau peralihan dari satu gerakan ke gerakan lain.

DSC04796.jpg
Tari Mojang Priangan (2)

 

Parebut Seeng
DSC05023.JPG
Tari Parebut Seeng

Tari Parebut Seeng biasa ditampilkan di acara adat pernikahan Sunda. Parebut artinya merebut. Seeng aritnya dandang tempat menanak nasi. Jadi salah satu penari yang menjadi jawara wakil dari calon mempelai wanita berusaha merebut penanak nasi dari jawara wakil calon mempelai laki-laki.

 

Rumah Sutera

Setelah workshop di Sindangbarang, kami lalu pergi ke Rumah Sutera, masih dekat dengan kawasan Sindangbarang juga, yaitu di desa Taman Sari, Bogor. Tapi karena kalau berjalan kaki lumayan jauh, kami pergi ke sana naik angkot.

Di Rumah Sutera kami mendapat penjelasan mengenai budi daya ulat sutera. Diawali dengan penjelasan mengenai makanan ulat sutera yaitu daun murbei. Rumah Sutera memiliki perkebunan murbei yang luas, yang nantinya daun-daun murbei akan dipanen dan dijadikan makanan buat ulat-ulat sutra.

DSC05138
Di kebun murbei

Bayangan saya, ulat-ulat sutra tersebut akan disebar tiap-tiap pohon murbei untuk melahap daun-daun murbei, terutama daun murbei yang muda. Terbayang bagaimana serunya (dan gelinya kita) melihat ulat-ulat memakan daun dengan rakus sehingga pohon murbei menjadi gundul. Ternyata saya salah.

Ulat-ulat sutra diletakkan di rak-rak di suatu ruangan yang besar. Daun-daun murbei yang sebelumnya sudah dipanen disiapkan, lalu ulat-ulat tersebut diberi makan daun murbei sampai mereka kekenyangan dan tidak mau makan lagi.

DSC05181.jpg
Maaf ya aku makan sendirian aja, kata ulat sutra

Setelah ulat kecil menjadi ulat besar dan kemudian tibalah mereka pada tahap yang sudah ditunggu yaitu bermetamorfosa menjadi kepompong.

Kepompong ulat sutra dikenal dengan nama cocon. Ulat sutra yang ada di dalam cocon mulai membentuk lembaran benang sampai ulatnya tidak terlihat lagi. Proses selanjutnya adalah membersihkan cocon, sebelum cocon tersebut direbus lalu dipintal menjadi benang.

DSC05217
Mengeluarkan cocon dari tempat penyimpanan

 

DSC05263.jpg
Cocon yang sudah dibersihkan, siap untuk direbus
DSCF5168.jpg
Cocon yang sudah direbus
Fujifilm X-E2
f/6.4, 1/60 sec, ISO 400

 

DSCF5150
Alat pintal
Fujifilm X-E2
1/3.6, 1/60 sec, ISO 400

 

DSCF5175
Benang hasil pintalan
Fujifilm X-E2
f/6.4, 1/60 sec, ISO 400

 

Setelah dipintal menjadi benang, tiba saatnya benang-benang itu ditenun menjadi kain sutra.  Terbayangkan betapa panjang perjalanan secarik kain sutra, dari sejak telur-telur menjadi ulat, yang kemudian dengan rakusnya memakan daun-daun murbei segar sehingga menjadi kain cantik yang bernilai mahal.

DSC05361.jpg
Proses menenun kain sutra

Pengalaman Menggunakan Kamera Fujifilm

Pada saat workshop, panitia meminjamkan beberapa kamera Fujifilm kepada para peserta agar mereka dapat langsung mencoba mempraktekkan teori yang telah dijelaskan oleh Uni Raiyani. Karena kebetulan kamera saya juga Fujifilm, jadi saya menggunakan kamera sendiri.

Kenapa saya memilih untuk membeli kamera Fujifilm yang sekarang saya pakai ini agak sedikit memalukan. Jadi saya naksir kamera Fujifilm yang disainnya terlihat jadul, padahal belum melihat  hasil foto kamera yang saya sasar itu seperti apa. Pada saat itu saya tidak mempelajari secara mendalam spesifikasi kamera yang mau saya beli, tidak melakukan komparasi terhadap kamera dengan tipe dan jenis yang sama tapi beda merk, tidak pula melakukan komparasi harga dengan produk selevel yang berbeda merek. Tidak ada hal yang sophisticated secara teknis yang saya pikirkan  pada saat itu sehingga saya memutuskan membeli kamera Fujifilm saya ini.

DSC05119.jpg

Saya memilih kamera Fujifilm X-E2 KIT 18-55 mm , karena suka dengan disain yang nampak oldies, mirip kamera bapak saya jaman dahulu kala. Tapi sebenarnya yang lebih mendorong kenapa saya memberanikan diri membeli kamera yang harganya lumayan mahal  karena waktu itu ada diskon dan cicilan 12 bulan tanpa bunga dari suatu  marketplace !! Yah … apa mau dikata , emak-emak ini biar soal kamera,  semangatnya semangat diskon. Maaf ya kalau agak malu-maluin begini.

Ada dua spesifikasi yang saya sasar ,  yaitu  kamera Fujifilm yang saya ingin beli adalah kamera mirrorless yang memiliki fasilitas Wifi. Sependek ingatan saya, di tahun  2016 fitur Wifi itu adalah fitur yang paling terbaru dan mirrorless camera juga lagi hangat-hangatnya dibicarakan. Jadi yang ada di pikiran saya, kamera yang memiliki fitur wifi harusnya adalah kamera bagus secara spesifikasi teknis maupun hasilnya.

 

DSC05097.jpg
Fujifilm X-E2 Tercinta
Kamera yang bagus itu yang seperti apa ?

Ada yang bilang kalau kamera yang bagus itu adalah kamera yang kita miliki. Setinggi apapun spesifikasi kamera, semahal apapun suatu kamera, kalau bukan punya kita, ya nggak bagus (buat kita).

Sebenarnya kalimat ‘kamera yang bagus itu adalah kamera yang kita miliki’ adalah kalimat hiburan. Suatu kalimat untuk memberi semangat agar kita selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki. Ibaratnya rumput tetangga lebih hijau, kulkas tetangga lebih dingin, tapi kalau tidak kita miliki, buat apa ?

Saran para bijak bestari di bidang fotografi adalah, maksimalkan kamera yang kita miliki. Kuasai secara penuh setiap fungsi-fungsi yang ada di kamera kita.

Kalau mau beli kamera, bagaimana menentukan kamera yang bagus untuk kita itu seperti apa ?

Ibaratnya mobil ada yang memiliki fitur canggih dengan harga mentok langit, ada pula mobil dengan fitur standar sejuta umat, mana yang kita pilih ? Tentu kita akan memilih yang terbaik buat kita sesuai dengan kemampuan kita membeli.

Begitu juga dengan kamera. Tidak ada yang melarang kita membeli kamera nomor satu bisa untuk mengambil foto galaksi Andromeda dengan sangat detail kalau kita memiliki uang, meski kemampuan menggunakan kamera sangat rendah. Toh kemampuan bisa diasah. Fitur-fitur bisa dipelajari.

Kalau kita sudah menentukan budget tertentu untuk membeli kamera, maka belilah kamera yang sesuai budget kita. Kalau ada banyak tipe dengan harga yang mirip, baru kita membuat perbandingan berdasarkan spesifikasi umum dari masing-masing kamera. Ada beberapa site untuk melakukan komparasi spesifikasi kamera. Tanyakan pengalaman-pengalaman orang-orang yang memiliki kamera yang kita sasar, apa plus minusnya kamera tersebut. Jangan lupa juga untuk melihat hasil foto dari kamera yang kita sasar. Lalu, setelah kita memutuskan satu tipe tertentu, yakinlah bahwa itu adalah kamera yang bagus, kamera terbaik buat kita.

WhatsApp Image 2019-09-05 at 22.17.14
Fujifilm X-E2 kit 18-55mm

Setelah memiliki kamera Fujifilm X-E2 kit 18-55mm, saya terkesan dengan hasilnya yang bagus, tidak perlu banyak diedit-edit segala. Minimal kita tahu teori segitiga exposure, Insya Allah hasilnya bagus. Lalu mulailah pelajari fitur-fitur lain dan tombol-tombol yang ada di kamera.

Saya tidak menyesal membeli kamera Fujifilm, meski dengan cara mencicil sekalipun *tutup muka*, karena kamera ini meskipun bukan full frame tapi kualitas gambarnya tinggi, kinerjanya juga memuaskan. Selama ini saya hanya menggunakan satu batere yang bisa dipakai seharian.

DSCF5282
Foto Keluarga
Fujifilm XE-2

 

Begitulah cerita perjalanan saya hari sabtu  yang begitu sarat pengetahuan. Saya senang sekali bisa mendapat ilmu dan terutama mendapat banyak teman baru.

Ternyata kalimat-kalimat penyemangat itu penting, ya. Terima kasih lho yang sudah membuat rangkaian kata cantik pembangun semangat. Memang setiap hari harus kita awali dengan senyuman, meski banyak hal-hal yang berpotensi merusak suasana hati. Tentu saja senyumannya juga dibantu dengan sarapan biar kita kuat berjalan kaki di tajakan-tanjakan.

Dan semoga ilmu yang kita peroleh dapat bermanfaat buat kita semua. Semoga kita juga bisa menebar ilmu tersebut supaya bisa bermanfaat buat orang lain.

 

6 thoughts on “Travel Photography & Travel Blog Workshop – Telisik Budaya Sindangbarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: