Bohemian – Sekali Lagi

Oke, fix ya kalau saya lagi suka banget sama Queen.

Saya pikir demam setelah nonton Bohemian Rhapsody segera padam satu minggu setelah saya nonton bareng teman-teman SMA. Demam setelah nontonnya itu berupa cari-cari lagi lirik lagu Queen, buka Youtube konser-konser Queen, lalu ikutan nyanyi sekuat tenaga ngikutin Farroukh Bulsara a.k.a Freddie Mercury yang sedang konser.

Freddie pernah bilang ke Mary, pacarnya kalau, di depan penonton yang mengelu-elukannya dia nggak bisa bersuara false. Beda ya sama saya, kalau saya memang false everywhere. Namun begitu hajar terus, nyanyi bareng kita.

Is this the real life, is this just fantasy

Selain nyanyi-nyanyi. Saya juga browsing-browsing informasi tentang pembuatan film Bohemian Rhapsody. Beruntung banget pemutaran film Bohemian Rhapsody di Indonesia bersamaan dengan pemutaran premier di Amerika Serikat, jadi yang diobrolin dan dibaca gak basi. Dan di Facebook, wah luar biasa gara-gara sering browsing Bohemian Rhapsody atau Queen, cookies ttg Queen muncullah di beranda FB saya. Yang saya suka tuh bacain comment-comment orang seluruh dunia tentang film BR. Sooo lovely karena sebagian sangat besar suka banget filem ini, sama dengan saya. Senang punya teman yang sepaham sepemikiran.

Oya, sebelum nulis lebih lanjut, ada yang belum nonton film Bohemian Rhapsody ? Ehem… ke mana aja lo ?

Kalau mau tahu jalan ceritanya sih sudah banyak banget yang nulis. Mau bahasa Indonesia, Inggris , Hindi, Parsi dll dll, buanyak banget yg bikin resensinya. Tapi nggak apa, saya tulis secara garis besar saja, ya. Dan berhubung ini sudah hampir 2 minggu tayang,  jangan marah kalo ternyata tulisan ini mengandung spoiler sana-sini. Karena ini juga bukan film Pengabdi Setan yang kita deg-degan setiap scene-nya dan ending-nya gimana. Secara umum, cerita tentang Queen sudah tahu-sama-tahu-lah. Jadi tantangan banget buat yang bikin film gimana supaya cerita yang sudah sedikit banyak ketebak jalan ceritanya, tapi jadi film yang bagus dan bikin orang nonton dan nonton lagi. Semacam repeat buyer.

Perlu kita ingat juga kalau film Bohemian Rhapsody ini bukan biography. Kalau biography kan harus sesuai dengan kejadian sebenarnya. Film ini adalah biopic  atau  biographical motion picture, yang artinya  film yang mendramatisasikan kehidupan orang atau tokoh dalam kehidupan nyata. Mungkin saja dalam biopic muncul tokoh-tokoh imajinatif atau bumbu-bumbu cerita untuk memperkuat jalan cerita. Jadi duduk manis aja nontonnya, ada yg nggak sesuai dengan sejarah nikmati aja, ada tokoh fiktif ya gak apa2 namanya di film jagoan bisa mati berkali-kali.

Etapi ndilalahnya kok dalam waktu yang bersamaan ada film biopic made in Indonesia, 2 biji sekalian lagi. Kebetulan ? Skip aja ya yang ini 😊

Film Bohemian Rhapsody adalah kisah perjalanan hidup Freddie Mercury bersama Queen. Awalnya Freddie yang di rumah punya nama Faroukh bekerja sebagai porter. Kalau malam dia pergi ke club untuk mendengarkan musik. Ketika vokalis band idolanya keluar, dia melakukan audisi dadakan di depan gitaris dan drummer band tsb, Brian May dan Roger Taylor. Brian dan Roger langsung tertarik sama Freddie dan menjadikannya vokalis di grup mereka.

Dari pertama kali lihat Brian May di film, ya ampuun … mirip banget Gwilym Lee dengan Bri pada masa kejayaan dulu. Bukan Bri yang sekarang yah .. 😊. Kalau buat Rami Malek (kasih lima jempol buat Rami) awalnya musti sesuaikan diri dulu dengan perawakannya Freddie, lama-lama kok mirip banget sama Freddie, apalagi di bagian rambut Freddie dipotong pendek dan kumisan, body language-nya Freddie banget, meskipun Rami lebih imut , pendek maksudnya.

Rami Malek, pemain watak keturunan Mesir ini, mainnya keren abis. Dia bisa membawakan diri sebagai Freddie yang mendapat bullying dari teman-teman sepekerjaannya dengan memanggilnya sebagai ‘Paki’. Ini singkatan dari Pakistan. Saya jadi ingat orang-orang Malaysia yang panggil orang Indonesia dengan sebutan ‘Indon’. Semacam ledekan gitu deh. Dia  bisa membawakan Freddie ketika kepercayaan diri Freddie lagi tinggi-tingginya, kalo orang sini sih bilangnya rada belagu gitu, lalu Freddie yang kesepian ketika berada di puncak kejayaan.

Untung Rami yang dipilih, yang tadinya peran Freddie ini dipercayakan kepada Sacha Baron ‘Borat’ Cohen. Mungkin secara fisik Sacha lebih dekat dengan Freddie, tapi karena ada permasalahan prinsip, Sacha diganti dengan Rami. Permasalahannya apa ? Ya ga cocok aja tujuan pembuatan film antara Brian/ Roger sebagai konsultan film ini dengan Sacha. Kita kalo ga cocok ama orang kan males nerusin kerja sama, ye kan ?

Grup band Queen menguncang dunia dengan lagu-lagunya yang sampai sekarang masih enak didengar, terutama lagu Bohemian Rhapsody  yang jadi judul dari film ini. Proses pembuatan beberapa lagu ditampilkan disertai dengan background soundtrack  keren yang terus menerus sepanjang film.

Queen tampil di mana-mana. Freddie mengundang orang-orang yang tidak dia kenal untuk datang ke pesta. Tapi di tengah keramaian pesta justru teman-teman meninggalkannya. Jarak semakin terbentang ketika dia merasa ada rasa yang lain di tubuhnya, juga ketika Freddie ditawari membuat album solo.

Rasa itu sifatnya universal. Mau kejadiannya di Inggris, Pantai Gading ataupun di Indonesia. Ketika Freddie ditinggalkan teman-temannya, ditinggalkan pacarnya yang bernama Mary, ketika dia kesepian di tengah hidup yang glamour, rasanya ikutan sedih. Kok gitu banget hidup lo, Freddie.

Sebagian orang menitikberatkan film ini pada kehidupan homoseksual Freddie. Ini pengetahuan umum, semua orang tahu. Terus terang beberapa teman saya memberi tanggapan dengan nada cemooh tentang film ini.  Juga saya baca di beberapa comment di social media yang bernada miring.

Memang benar Freddie itu suka sama sejenis, tapi dia juga tetap cinta Mary, pacarnya. Lalu apakah dalam film ini ditampilkan kehidupan kaum homo ? Yang jadi pertanyaan, menampilkan kehidupan homo macam apa ? aktifitas seksual mereka ? Atau apa ? Untuk apa ? Kalau yang ingin tahu gimana kehidupan Freddie Mercury beserta teman homonya, silakan aja nonton film ini. Yang pasti filem yang dibuat selama 8 tahun ini tidak  berisi hal frontal tentang kehidupan kaum homoseks.

Di Indonesia rating film ini untuk 17 tahun ke atas, meskipun gak ada tuh ciuman antar cowo (mungkin juga udah kena gunting sensor). Kalo ada pingin muntah juga. Bukan Cuma masalah di adegan yang bikin rating-nya 17 tahun ke atas. Tapi bayangkan kalau anak-anak kita yang masih kecil kita ajak nonton film di mana ‘sang jagoan’ dielu-elukan orang tapi ternyata homo ? itu bisa merusak otak anak-anak yang belum siap memahami sisi kehidupan yang sebelah situ itu. Anak-anak akan beranggapan homoseksual adalah hal biasa dalam kehidupan. Why not ? toh tokohnya jadi idola.

Kalau orang dewasa setidaknya sudah paham dan seharusnya sudah tahu bagaimana harus bersikap untuk orang-orang yang menyukai sesama jenis. Orang dewasa diharapkan lebih open-mind. Bahwa ada kehidupan seperti itu. Apakah untuk dikata-katai jijay bajaj atau diarahkan bahwa kehidupan seperti itu salah menurut agama, atau menerima dan mengambil hikmah ? Pilihan ada di anda-anda yang dewasa.

Orang tua, mari bertanggung jawab atas perkembangan pemikiran anak-anak kita. Jangan bawa anak kecil untuk film ber-rating dewasa.

Balik lagi ke film di mana Freddie Mercury  mendapat tanda-tanda ada penyakit menggerogoti badannya. Adegan dia pergi ke rumah sakit sendiri dan pengambilan gambar yang dari ruang praktik dokter terlihat begitu menyakitkan. Apalagi ketika dia berjalan di Lorong rumah sakit, disapa oleh seorang pasien yang mengenalinya. Sementara itu adegan diiringi dengan lagu Who Wants to Live Forever…. Huhuhu..cedyyhhh ….

There’s no time for us
There’s no place for us
What is this thing that builds our dreams
Yet slips away from us?

Who wants to live forever?
Who wants to live forever?
 

There’s no chance for us
It’s all decided for us
This world has only one
Sweet moment set aside for us

Who wants to live forever?
Who wants to live forever?
Who?

Who dares to love forever
Oh, when love must die?

But touch my tears with your lips
Touch my world with your fingertips

And we can have forever
And we can love forever
Forever is our today

Who wants to live forever?
Who wants to live forever?
Forever is our today

Who waits forever anyway?

Ada lagi satu adegan menyentuh ketika Freddie membawa pacar homonya, Jim Hutton ke rumah orang tuanya. Bayangin lo sebagai orang tua Freddie, anaknya lama gak pulang-pulang sekalinya datang membawa pasangan. Udah gitu pasangan sesama laki juga ! Pedih nggak sih ? Tapi Bomi Bulsara dan Jen Bulsara sebagai orang tua Freddie harus menerima kenyataan itu.

Film yang dibuka dengan ‘cameo’ Lady Diana dan Pangeran Charles yang hadir di Stadion Wembley untuk melihat konser Live Aid, ditutup juga dengan adegan replica Queen yang melakukan konser Live Aid. Ini adegan terkeren. Replika adegannya nyaris sama dengan kejadian tahun 1985. Plek ketiplek mirip, bos.

Tentu saja Queen membawakan lagu Bohemian Rhapsody, disambung Radio Ga Ga. Masih semangat ??? …. Okee..lanjut dengan We Will Rock You dan lagu pamungkas We are The Champions. Merinding gak si lo ?

Lagunya masih kurang ? We want more ? Di akhir film masih ada rekaman lagu Don’t Stop Me Now mengiringi credits title. Ini jadi semacam lagu kebangsaan yang menutup dua jam pertunjukan. Queen nggak ada matinya.

Rasanya masih sayang untuk beranjak dari kursi.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s