Cirebon – (Nggak Sampai) Situs Batu Naga

Meski nggak ngerti-ngerti banget dengan hal yang berhubungan dengan benda-benda prasejarah beserta filosofinya, tapi berkat racun teman saya, Mila, jadi saya ikut-ikutan join kalau komunitas dia, Lacak Artefak, pergi ke situs-situs prasejarah. Awalnya saya ikutan pergi ke Gunung Padang. Tidur di rumah penduduk lalu sok-sokan ikutan dengerin diskusi tentang Situs Gunung Padang. Kemudian saya juga ikutan pergi ke candi Muaro Jambi bertepatan dengan peristiwa Gerhana Matahari Total. Tentang keduanya saya belum pernah nulis, ya … Pingin sebenernya, cuma yaa gitu dehhh … #carialasan.

Nah yang ketiga ini saya tadinya berencana ikutan Komunitas Lacak Artefak untuk naik Gunung Tilu mendatangi situs Batu Naga … Ehh…what ?? Naik gunung ?? … Bwahhh .. sebenernya pas baca itinerary ‘naik gunung’ dengkul saya langsung lemas, peredaran darah berpacu cepat. Teringat ikrar bahwa saya gak mau naik gunung dengan jalan kaki kalau masih ada kendaraan yang bisa lewat. Minimal angkot nekadlah. Tapi demi Situs Batu Naga yang belum banyak orang datang ke sana, dibela-belain deh ikutan.

Oya, alasan lain saya ikut-ikutan Komunitas Lacak Artefak adalah untuk mengajak anak-anak saya mengenal tempat-tempat bersejarah. Bisa jadi sekarang mereka nggak terlalu ngerti-ngerti amat kenapa harus ke Gunung Padang, atau ke Muaro Jambi atau sekarang mau ke Batu Naga. Sama deh ama ibunya. Tapi sedikit-sedikit mulai memperkenalkan tempat-tempat itu, critanya nih, ke mereka. Mungkin sekarang mereka baru punya  foto-foto di tempat-tempat itu. Next time, mungkin akan timbul kesadaran bahwa ternyata di Indonesia ini banyak peninggalan peradaban-peradaban lama, bahwa orang Indonesia ternyata sudah memiliki tingkat peradaban yang tinggi dilihat dari peninggalan-peninggalan yang ditemukan. Ah seriusnya ….

DSCF0812

Dapet posisi enak biarpun dikelilingi ransel dan tas bekal

Ok, kembali ke rencana Situs Batu Naga. Perjalanan ke sana kelihatannya gampang, ngeliat rute yang saya dapat. Dari Jakarta ke Kuningan. Dari Kuningan ke Desa Jabranti. Dari Desa Jabranti naik ojek 10 menit ke Desa Banjaran. Setelah itu baru mendaki Gunung Tilu untuk menjumpai Batu Naga ….Hmmm… gampang kan, keliatannya ?

Saya nggak ikutan rombongan yang berangkat tanggal 16 Agustus pagi,  karena tanggal 16 pagi anak-anak masih sekolah dan saya juga masih kerja. Kami berangkat sore menjelang magrib setelah menjemput anak-anak. Dan seperti sudah diduga karena besoknya liburan 17 Agustusan, macet melanda Jakarta di mana-mana #alasannomorsatu.

Setelah terlepas dari macet ibukota dan makan malam di rest area KM 19, kami baru mulai perjalanan jam 20.30 !! .. huhu… malem banget. Di jalan apa lagi yang kita lakukan kecuali tidur dan tau-tau hampir sampai di pintu tol menuju kota Cirebon jam 23.00 WIB. Kami lalu membuat keputusan yang tidak boleh disesali seumur hidup #apasih , yaitu masuk kota Cirebon, cari penginapan, lalu melanjutkan perjalanan besok saja. Soalnya saya ngebayangin musti ke Kuningan  malam-malam, bersama anak-anak, tanpa konvoi mobil yang lain, terus nyari-nyari desa yang belum tentu ada di peta GPS. Semangat Dora saya meredup kalau malam, meskipun purnama bersinar terang.

Cerita saya tentang Situs Batu Naga jadi sedikit bergeser sasaran. Berhubung jadinya nginap di Cirebon, jadi ini cerita kegiatan kami di Cirebon sebelum kemudian berangkat ke Kuningan.

Sampai di Cirebon hampir tengah malam sebenarnya gak seram-seram amat. Cirebon jam segitu masih rame aja. Berhubung belum reservasi hotel sama sekali dan perut kembali dalam posisi nol, laper maksudnya, kami singgah dulu di resto burger 24 jam. Halah , mo bilang McD susah amat .. Lumayan lah ya bisa ngelurusin kaki sembari ngisi perut. Sebenarnya di sekitar kita banyak hotel, cuma masa sih jaman sekarang mau ke hotel musti datengin satu per satu, tanya rate, terus kalo ga cocok cari hotel lain ? .. Kerasa banget ya beda traveling jaman sekarang ada traveloka, booking.com, agoda, tiket.com dll. Udah gitu kita bisa compare harga yang ditawarkan.

Ada satu hotel yang dari sisi lokasi cukup strategis, yaitu di depan alun-alun. Kami pilih hotel itu karena lokasinya dekat dan gak perlu cari-cari lagi. Yang jadi pertimbangan juga kami bisa parkir mobil di depan kamar. Jadi nggak perlu keluarin semua barang dari mobil. Keluarin yang perlu-perlu aja.
Nama hotelnya Langen Sari. Bukan hotel yang mewah, malah bangunannya sudah tua. Tapi lumayanlah hotelnya bersih dan ruangannya cukup luas.

DSCF0684

DSCF0495

Menu sarapan, pilih nasi goreng atau soto ayam

Rencana tinggal rencana. Jadi rencananya pagi-pagi kita melanjutkan perjalanan ke Kuningan. Tapi ternyata jalanan di depan hotel ditutup ! Banyak truk-truk TNI parkir. Tentara dan pelajar bersiap berbaris di sekitar hotel untuk mengikuti upacara Tujuh Belas Agustus. Kami jadi ikutan nonton upacara yang diadakan di alun-alun, persis di seberang hotel.

DSCF0570

Berkibarlah benderaku

Semangat pergi ke Kuningan mulai berkurang 20 persen, tapi bukan berarti semangat jadi padam ! Nggak sinkron banget dengan semangat para pahlawan yang sudah berkorban nyawa untuk kemerdekaan ini. Masa timbang jalanan ditutup aja jadi gak jadi ke Kuningan. … tapi … jangankan ke Kuningan, ke tempat lain di Cirebon juga gak bisa saat itu..kecuali kalo mau naik becak masih bisa.

DSCF0513

Persiapan

DSCF0517

Peserta Upacara

DSCF0626

Alun-Alun Kejaksaan Cirebon

 

DSCF0638

Fotoin bapaknya yang lagi tugas

 

DSCF0634

“Pak, odong-odong sebelah mana, ya ?”

 

DSCF0669

Penonton

DSCF0661

Makan dulu biar kuat menjalani kehidupan

Di seputaran Cirebon kami makan siang nasi jamblang dan beli oleh-oleh di Sinta , baru melanjutkan ke Kuningan.

DSCF0718

Nasi Jamblang Khas Cirebon – Ibu Nur

Jalan Cangkring II No. 34, Kejaksan, Kota Cirebon, Jawa Barat 45154, Indonesia

DSCF0733

Yuk, makan dot kom

 

DSCF0786

Ice Cream Durian Mas Slamet – Pas di teras rumahnya Bu Nur

Meskipun cuaca sangat panas terik ketika kami meninggalkan Cirebon, untungnya selama perjalanan ke Kuningan nggak terlalu panas. Mungkin juga karena hari sudah mulai  merambat sore.  Kami nih semua blank sama sekali lokasi tujuan kami mau ke mana, musti belok kiri atau belok kanan. Saya acungkan jempol buat peta GPS di mobil deh yang sampai desa Jambrati juga ada di peta. Kami pasrah ngikutin peta nyampe juga di desa Jambrati.

DSCF0866

Cuci mata sawah di mana-mana

DSCF0836

Dari jalan mulus, jalan berliku, jalan berliku tajam, jalan mulus lagi, sampai ujung aspal jalan gradakan

DSCF0875

 

DSCF0880

Desa Jabranti, desa terakhir perjalanan kami , penuh keramaian perayaan Tujuh Belasan.

Penduduk tidak menyarankan kami melanjutkan perjalanan selain sudah sore, perjalanan selanjutnya ke Desa Banjaran tidak bisa dilalui dengan mobil.

Oke laahh … lagian sudah sore nggak mungkin kami pergi ke Gunung Tilu. Tapi kami cukup senang bisa traveling sampai Kuningan. Menikmati udara Kuningan yang bersih dan adem. Kamipun sempat berhenti di padang rumput, ngobrol-ngobrol dengan bapak tua penggembala kambing sembari makan singkong rebus buatannya.

 

DSCF0907

DSCF0919

DSCF0921

Di Kuningan yang adem, bertemu gembala kambing

 

DSCF0900

Sesungguhnya, gunung itulah tujuan kami

Jadi, tujuan kami ke Situs Batu Naga belum kesampaian. Mudah-mudahan lain kesempatan bisa ke Kuningan lagi.

Berikut informasi mengenai situs Batu Naga yang saya dapat dari Wiki.

Naga Jabranti adalah batu tulis bertatahkan gambar naga di puncak Gunung Tilu, Dusun Banjaran, Desa Jabranti, Kuningan, Jawa Barat. Awalnya batu ini hanya tempat orang-orang yang bertapa maupun ngalap berkah, mencari pesugihan. Namun kemudian diteliti dan diperkirakan merupakan peninggalan zaman prasejarah

Asal zaman prasejarah dikuatkan dari bentuk batu tegak yang utuh. Namun pahatan gambar dalam batu, apalagi bergambar naga, bukan merupakan ciri khas masyarakat prasejarah. Diduga, pahatan tersebut ditambahkan kemudian. Susunan batu diperkirakan memang berasal dari masa prasejarah, pada periode tahun 500 SM. Sementara ukirannya dari abad 14-15 M. Ditemukan gambar orang yang sedang memegang ekor naga.

Sementara ini pada pahatan di atas ketiga sisi atau bidang batu, dikenali beberapa bentuk/motif berupa hewan dan antropomorfik (pemanusiaan atau atribusi pada bentuk/karakter manusia). Antara lain ular naga, lengkap dengan kepala tubuh, sisik, ekor; moncong menyerupai buaya; kepala burung; belalai gajah; serta manusia dengan profil menyamping dan sedang memegang senjata semacam parang.

Silakan juga gabung dengan Komunitas Lacak Artefak bersama Prof Ali Akbar untuk mengenal Indonesia ribuan tahun yang lalu. Supaya kita mengerti bahwa  bangsa Indonesia adalah sesungguhnya bangsa yang mature, yang sudah ada sejak jaman dahulu. Sebagai bangsa yang sukses survive sampai masa sekarang, jangan malu-malu tegakkan muka kita di antara masyarakat dunia, jangan minderan. Ayoklah kita mulai mengenai Indonesia dari jaman prasejarah, supaya sejarah bangsa Indonesia juga tetap ada ribuan tahun yang akan datang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s